liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Polisi London, Inggris.

Selasa, 17 Januari 2023 – 08:36 WIB

dunia VIVA – Seorang petugas polisi London mengaku bersalah atas 24 pemerkosaan selama hampir dua dekade. Pengakuannya membuatnya menjadi pelanggar seks paling umum di Inggris.

Polisi Metropolitan London dan Kantor Kejaksaan Agung Inggris mengatakan bahwa David Carrick, 48, telah menyalahgunakan kekuasaannya untuk mengontrol dan mengintimidasi korbannya. Dia mengatakan kepada para korban bahwa tidak ada yang akan mempercayai kata-kata mereka karena masyarakat akan lebih mempercayai pernyataan polisi.

Polisi London, yang telah kehilangan kepercayaan publik dalam serangkaian skandal, telah meminta maaf karena gagal memikirkan pola pelecehan mereka sebelumnya. Seorang juru bicara Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak menggambarkan kasus itu mengerikan.

“Ini adalah kasus yang mengerikan dan perdana menteri menyesal atas apa yang terjadi pada korban,” kata juru bicara itu.

“Polisi harus menghilangkan oknum-oknum tersebut untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat yang telah hancur akibat kejahatan besar tersebut,” ujarnya.

Walikota London Sadiq Khan mengatakan beberapa pertanyaan serius perlu dijawab setelah Carrick mengaku bersalah atas 49 dakwaan terkait kasus pemerkosaan yang melibatkan 12 korban, yang dilakukannya antara 2003-2020.

Halaman selanjutnya

Asisten Komisaris Polisi Metropolitan London, Barbara Gray menyesali kejadian tersebut dan seharusnya mengetahui perilaku kasar rekannya lebih awal.